Pages
Categories
Archives
Meta
Pages
Categories
Archives
Sukses dengan ”Knowledge Management”
Posted in: Uncategorized by Adhe on February 25, 2009
Sukseskah anda? Pertanyaan ini kerap kita dengar dalam percakapan dengan para pengusaha, profesional, Chief Executive Officer (CEO), direktur, manajer. Pertanyaan itu membuat kita merenung: apakah saya atau lembaga/perusahaan tempat saya bekerja telah sukses dan bagaimana mempertahankannya?
Satu kata kunci untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah “inovasi”. Dengan inovasi maka daya saing perusahaan akan meningkat dan mampu bertahan dalam persaingan global. Inovasi merupakan hasil akhir dari suatu upaya yang terus menerus dalam pengelolaan pengetahuan atau Knoledge Management, disingkat KM. KM yang dilakukan secara efisien dan efektif serta terus menerus, akan menciptakan manusia-manusia kreatif yang pada gilirannya akan mampu ber-inovasi menghasilkan produk-produk (barang dan jasa) baru, metode pemrosesan yang lebih efisien, cara-cara baru dalam penetrasi pasar, dan berkelanjutan.
Majalah Fortune pada tahun 1999 pernah mengeluarkan peringkat 15 perusahaan urutan teratas hasil market valuation atas 500 perusahaan kelas dunia yang paling sukses. Hasilnya, Microsoft bertengger di urutan pertama, disusul Nokia, Fuji, Xerox, dan seterusnya. Apa kiat sukses mereka? Jawabannya adalah: mereka berhasil mengelola pengetahuan sebagai aset strategis, dan menjadikan pengetahuan sebagai salah satu indikator utama keberhasilan.
Jadi, modal utama perusahaan-perusahaan itu tidak lagi terfokus pada aset yang tangible (tanah, bangunan, uang) melainkan tapi telah berubah ke aset intangible (brand recognition, patent, customer loyalty dll) yang merupakan wujud kreatifitas dan inovasi yang bersumber pada pengetahuan.
Sebagai suatu aset yang strategis, pengetahuan harus dikelola dan dikembangkan. Dengan manajemen pengetahuan yang efektif, akan tercipta iklim yang kondusif atau budaya belajar dan berbagi pengetahuan, sehingga pengetahuan para individu yang sangat beragam menjadi mudah dipadukan hingga menjadi pengetahuan organisasi atau perusahaan. Sasarannya: menghasilkan berbagai keunggulan. Jadi, jargonnya adalah: “individual knowledge is nothing, but shared knowledge is power”.
Menggalang ”Knowledge Worker”
KM belum memiliki definisi formal. Tapi secara konseptual, KM merupakan kegiatan organisasi dalam mengelola pengetahuan sebagai aset, dimana dalam berbagai strateginya ada penyaluran pengetahuan yang tepat kepada orang yang tepat dan dalam waktu yang cepat, hingga mereka bisa saling berinteraksi, berbagi pengetahuan dan mengaplikasikannya dalam pekerjaan sehari-hari demi peningkatan kinerja organisasi.
Pada tataran praktek, Amrit Tiwana (2000) menjelaskan KM sebagai sebuah konsep dimana perusahaan mengelola pengetahuan organisasi secara efektif guna menciptakan business value dan competitive advantage Pengetahuan yang semula milik individu, kini menjadi milik perusahaan, dan dapat digunakan serta disebarluaskan untuk kepentingan perusahaan.
Konsep ini berorientasi pada pembentukan kowledge worker dalam perusahaan, seperti yang ditulis Peter F. Drucker dalam bukunya Landmark of Tomorrow di tahun 1959. Menurutnya, seorang pekerja yang efektif akan mengandalkan pengetahuannya dan tidak terbatas pada kemampuannya saja.
Metode ini kemudian dikembangkan oleh Ikujiro Nonaka (1987,1998) dalam tulisan nya The Knowledge Creating Company, dimana Nonaka lebih memfokuskan pada optimalisasi penggunaan pengetahuan yang telah ada dalam perusahaan, agar menghasilkan pengetahuan yang baru, hingga proses kreativitas menjadi faktor utama. Di dalam proposisinya, Nonaka banyak mengambil contoh pengalaman dari perusahaan Jepang di bidang otomotif, seperti Honda, Toyota, yang mampu memapakkan kaki secara kokoh dalam persaingan dunia otomotif yang sangat ketat, berkat inovasi yang berkelanjutan.
Mengelola Mindset
Konsep KM seringkali disalah tafsirkan sebagai suatu bentuk teknologi informasi, padahal sesungguhnya tidak demikian, meski harus diakui banyak konsep dan strategi KM berasal dari kalangan industri teknologi informasi. Memang teknologi informasi berperan besar dalam menentukan tingkat keberhasilan inisiatif KM.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa inti utama dari implementasi suatu strategi KM adalah manusia, dengan fokus mengelola mindset (pola pikir) dan perilaku manusia dalam suatu organisasi. Sistem informasi yang didukung oleh teknologi informasi hanyalah pendukung. Hal yang sangat penting adalah bagaimana mendorong agar terjadi suatu perubahan (change) dalam cara memimpin, cara bekerja, dan cara berfikir yang dilakukan secara terus menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan atau budaya baru.
Change management dengan rambu etika yang ketat sesungguhnya merupakan inti pokok implementasi KM. Penyebarluasan etika KM membutuhkan perjalanan panjang, tidak ada jalan pintas, dan oleh karena itu harus segera dimulai. Kalau tidak, perusahaan yang tidak melakukan perubahan dalam konsep KM tidak akan mampu bertahan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Penerapan di Indonesia
Di Indonesia, belum banyak yang menerapkan KM, namun berangsur jumlahnya meningkat. Pembahasan mengenai KM juga semakin marak terutama semenjak PT Dunamis gencar mempromosikannya melalui pemberian penghargaan MAKE (Most Admired Knowledge Enterprise) Award kepada perusahaan yang telah mengimplementasikan inisiatif KM. Diskusi mengenai KM juga merambah ke dunia akademis. Seminar Nasional “Knowledge Management & Competitive Value: Key Success Factors in Business” digelar pada 5-7 Agustus lalu oleh Universitas Widyatama dan Institut Teknologi Bandung. Pesertanya ratusan, mewakili kalangan akademisi, kalangan profesional bisnis, dan birokrat.
Hal penting dalam seminar tersebut adalah bahwa insiatif KM bukan hanya penting bagi dunia bisnis untuk menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat, akan tetapi juga relevan bagi lembaga publik karena kecenderungan meningkatnya tuntutan stakeholders terhadap kinerjanya dalam era demokrasi.
Sejumlah perusahaan swasta yang menonjol dalam penerapan KM tercatat, antara lain, PT Unilever, Toyota Astra, Bank Niaga, Bank Danamon. Dari lembaga publik terdapat Bank Indonesia (BI), yang masuk 5 dari 10 penerima MAKE Award 2006.
Belajar dari pengalaman lembaga publik di negara lain yang sukses mengimplementasikan KM, seperti World Bank dan Reserve Bank of New Zealand (bank sentral New Zealand), BI mulai menerapkan inisiatif KM sejak tiga tahun lalu. Dari pengalaman BI, ternyata, menerapkan KM tidak mudah. Ini karena KM menuntut perubahan perilaku kerja di seluruh jajaran, dari tingkat tertinggi sampai terendah. Padahal budaya kerja yang ada sudah sangat melekat dalam diri setiap orang dalam organisasi. Para pegawai telah merasa nyaman dengan berbagai fasilitas dan lingkungan kerja yang ada, sehingga pada tahap awal muncul resistensi. Menyadari hal tersebut, strategi KM di BI senantiasa menghindar dari pendekatan big bang. Sehingga diambil pendekatan slow start dengan arah jangka panjang yang jelas dan dilakukan secara konsisten.
Inisiatif KM sangat mendesak untuk diimplementasikan oleh setiap organisasi atau perusahaan untuk meningkatkan daya saing. Dari sisi eksternal perusahaan, peranan Pemerintah juga sangat strategis dalam menciptakan infrastruktur dan iklim yang kondusif untuk mendorong inovasi sebagaimana telah banyak dilakukan oleh berbagai Pemerintah di negara maju.
sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0610/04/opi01.html
No Comments »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL